Masih ingatkah engkau hal-hal yang pernah kita lalui bersama? Banyak hal bodoh yang ada di dalamnya. Tapi buatku, sebodoh apapun itu, aku sangat mensyukuri kebersamaan kita. Menikmati setiap detiknya.
Sering aku memandangimu lama-lama saat kamu tersenyum, saat kamu membenarkan letak kerudungmu, saat kamu mengetik SMS, bahkan aku suka caramu tertawa lepas, kemudian aku hanya mengusap dadaku dan menenangkan gemuruh di dalamnya. Ah, kamu memang manis. Kamu pasti sering bertanya kenapa aku sampai tahu kamu sedetil itu, memperhatikanmu sampai hal-hal yang tak penting. Itu cinta. ya, itulah yang namanya cinta.
Oh iya, ada saat di mana yang kita lakukan dulu dan sekarang sangat aku rindukan, saat di mana aku berada selangkah di depanmu, menghadap kiblat, lalu kamu mengaminkan bacaan Al-fatihahku. Tak lama memang, hanya beberapa rakaat. Andai aku mampu, ingin rasanya kuhentikan waktu. Tapi sekarang mengapa kita tak pernah melakukannya lagi? kita lebih sering sendiri-sendiri, aku lebih dulu lalu kamu setelahnya, atau sebaliknya.
Masih ingat juga pertama kita dekat, sering aku menangis karena kedekatan kita sepertinya tak mendapat restu, terlebih sikap-sikapmu yang kulihat tanpa respect. Ada apa dengan kamu? Ada pertarungan hebat dalam diriku, sering aku bertanya, "Kenapa aku masih di sini? kenapa aku masih bertahan dan tak beranjak pergi?" Lalu sisi lain dalam diriku menjawab, "Pikiran memang ingin pergi, namun hati tak mampu beranjak." Sepertinya ini memang cinta, bertahan dalam harapan.
Sebenarnya aku juga tahu aku tak boleh seperti ini, aku tak seharusnya banyak berharap pada seseorang. Seharusnya aku berharap pada-Nya sampai Ia mendatangkan seseorang untukku, dengan skenario-Nya tentunya. Tapi aku juga tak mampu melepaskan semua ini, andai aku bisa melepaskanmu semudah aku mengetikannya. Andai aku mampu berjalan kembali semudah aku berbicara, sulit. Sangat.
Kini waktu terus berjalan. Semoga apa yang aku pikirkan tentang apa yang aku perjuangkan untukmu telah membuahkan hasil, benar adanya. Setidaknya lebih baik. Karena berniat menikahimu adalah jalan yang menurutku jauh lebih baik daripada kita terus menerus ada dalam posisi sekarang ini. Yang aku harapkan adalah ridho-Nya. Semoga Allah memudahkan semuanya.
Tapi masih ada kegelisahan yang terus menggangguku. Tentang sikap-sikapmu. Apakah akan masih sedingin ini kelak? Akankah nantinya juga kamu terus-terusan melihat sisi burukku? sedangkan status-statusmu selalu saja melihat orang dari sisi terbaiknya. Aku salah apa?
Kata orang, kesabaran itu ada batasnya, tapi buatku tidak. Aku memilih untuk terus bersabar dan istiqamah di dalamnya. Andai kamu tau, kamu adalah nama yang kusebut setelah orang tuaku di dalam doa-doaku setelah sholat.
Ah, sudahlah. Harusnya hal-hal seperti ini selalu ada dalam hatiku. Tak perlu aku katakan, karena bagaimana pun juga aku berusaha untuk menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu walaupun bukan karena. Jika ditanya apa yang aku cintai darimu, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tak punya alasan untuk itu. Yang jelas aku mencintaimu.
(Yo Ga, 23 September 2012)