Pages - Menu

Minggu, 14 Oktober 2012

Gombalan Lewat Puisi



Oleh : Jang Syauqi (Kelas puisi, Banceuy, 14 Oktober 2012)


Ketika mentari tinggal sepotong
Ketika sisa hari tak penuh lagi
Baru kumenyadari betapa lelahnya diriku
Terlebih lagi... hatiku!

Bila penantian ini masih panjang tersisa
Tolong, beri aku satu kepastian
Agar janji dan arti setia
Tetap utuh senantiasa

Gadis Cantik

Oleh : Rick Luck

Aku berjalan hari minggu
Tiba-tiba ada yang mengganggu
Disebalah kananku dia tersenyum manis
Ternyata gadis cantik dari Ciamis

Kutanya siapa namamu
Katanya Marlena sambil tersenyum
Bolehkah aku kerumahmu
Tentu katanya sambil tersipu malu

Aku Pikir

Oleh : Jang Syauqi (Kelas puisi, Banceuy, 14 Oktober 2012)

Kupikir, jeda waktu bisa mengikis rasa
Bentang jarak mampu membuat lupa
Ternyata aku keliru
Namamu tetap bercokol kuat di hatiku
(dan kamu tak pernah tahu)

Ini bukan rindu madu cinta
Sebab aku tanpa kamu mana boleh disebut cinta
Tapi ini rindu racun luka
Luka akibat salah memilah rasa
(dan kamu tak boleh tahu)

Ah, andikan saja kau rasakan juga

Kepada Seorang Perempuan Muda di Perempatan

Oleh : Mutaminah (kelas puisi Banceuy, 14 Oktober 2012)


Di antara sebuah lagu tanpa nada

Di perempatan saat lampu merah menyala

Ada tanya yang mengusik dalam dada



Apakah kau tengah mempertontonkan padanya

Kerasnya kehidupan yang harus mampu tertangguhkan?

Ataukah kau tengah mengajarinya melabuhkan nasib pada belas kasihan orang?



Aku tergugu

Menyelami kedua kelopak mata bayi dalam gendonganmu

Yang terkatup bisu

Di antara berkah penderitaan yang tengah kau seret ke jalanan

Patutkah?



Hatiku gerimis mendapatimu dirimu berbasuh debu jalanan

Kau merendahkan dirimu demi sehelai kertas bergambar pahlawan

Atau setidaknya beberapa keping logam karatan



Hanya sebatas inikah takdir yang mampu kau tebus dari Tuhan untuk anakmu?

Katanya hidup itu pilihan

Tapi mengapa jalan ini yang kau ambil?

Ini Bukan Tentang Warna

Oleh : Putra Jatijajar

Terjatuh lembut butiran pasir di wajahnya.
Aku bukan memaksanya untuk diam di tepian jalan itu.
Mentaripun mendukung lajunya waktu.
Berteman dengan awan.

Dia berjalan di lorong jalan.
Tapi bukan yang di tengah kota.
Hanya di gang sempit.

Merah dan putih, dan sore itu, semua jelas.

Indondonesia Raya, Berkumandang sebuah lagu kebangsaan.

Ini bukan soal 17 Agustus.
Bukan juga tentang warna.
Tapi ini tentang kita.
Wahai anak muda, dimana semangatmu





13 Oktober 2012

Saat Kita

Oleh Noey Ismii

Riuhnya suara mereka
Kadang dibarengi dengan tawa
Tak jarang ada kesal diantaranya
Tapi tetap satu suara

Tak ada yang bisa terlupa
Saat kita semua bersama
Berbagi canda dan tawa
Menjadi satu dalam banyak kepala

Kini kita telah saling berbeda
Jarang sekali ada waktu bersama
Tapi kita masih saling menyapa
Walau hanya di dunia maya

Kita tetap satu suara
Tetap menjadi satu kepala
Meskipun tak lagi di dunia nyata
Meskipun tak bisa lagi bersama

Cerpen : Patahan Bintang



Oleh: Noey Ismii

“Kau pernah melihat bintang?”

“Kau bercanda? Tentu saja sudah! Setiap malam aku melihatnya! Atau kau lupa bahwa aku sangat menyukai bintang?”

“Tentu saja aku tidak pernah lupa. Tapi kau belum pernah melihat bintang di depan matamu, kan?”

“Aku melihat bintang di langit malam.”

“Kau harus melihat patahan bintang!”

“…”

“Aku akan mencarikannya untukmu.”

“Cari? Kemana?”

“Kau tidak akan percaya jika aku bilang sekarang. Tapi kau akan terkejut saat kubawakan satu untukmu.”

“Memangnya kau bisa terbang sampai kau mau membawakan satu bintang untukku?”

“Aku tidak akan memberimu bintang. Tapi aku akan memberi patahan bintang!”

“Apa bedanya?”

“Tentu saja beda.”

“Kau mau membodohiku?”

“…”

“Bilang saja jika kau sedang membodohiku!”

“Aku …”

“Benar, kan? Kau tidak bisa mengelak!”

“Aku harus pergi.”

“…”

“Aku harus meninggalkanmu.”

“…”

“Aku akan pergi, ke bintang.”

“Jangan bercanda! Itu sama sekali tidak lucu!”

“Aku tidak bercanda. Aku akan pergi. Nanti, jika aku kembali, aku akan membawakan patahan bintang untukmu.”

“Kau …”

“Kau mau menungguku?”

“…”

“Gheya …”

“Jangan pergi!”

“Tapi aku harus pergi”

“Aku tidak mengizinkanmu pergi!”

“Ini harus kulakukan, Gheya. Ini untukmu juga.”

“Ini bukan untukku! Ini untuk dirimu sendiri!”

“Tolong hilangkan dulu egoismu itu.”

“Aku hanya ingin agar kau tidak pergi. Kau yang egois!”

“Aku melakukannya untuk kita.”

“Kenapa kau harus pergi? Untuk apa? Apa aku tidak berarti untukmu? Apa yang membuatmu harus pergi?”

“Aku tak pernah meminta apapun. Karena semua yang aku inginkan ada di depanku sekarang. Semua yang aku harapkan ada pada dirimu. Tapi aku harus tetap pergi.”

“Untuk apa?!”

“Untuk kita.”

“Kita?! Kau! Ini hanya untukmu! Lalu aku? Bagaimana denganku?”

“Kau akan menungguku.”

“Aku tidak akan menunggu!”

“Aku tahu kau akan menungguku!”

“…”

“Benar, kan?”

“…”

“Gheya …”

“Kapan kau kembali?”

“Tidak lama. Tidak akan lama …”

-o0o-

Malam kembali datang. Gelap kembali menyerang. Angin dingin pun kembali bertiup. Binatang malam seperti tak mau ketinggalan, setia meramaikan malam. Bulan purnama terbentuk bulat sempurna di atas mega. Awan tipis membingkai cahaya pantulannya. Lalu bintang, dengan setia menemani rembulan. Juga seorang gadis yang juga setia menemani bintang.

Mata biru terang itu masih menatap satu per satu bintang yang berkedip di langit malam itu. Kemudian pandangannya beralih pada kanvas putih di hadapannya. Belum ada yang terlukis disana. Tapi sebentar lagi, kanvas itu akan segera terisi. Seperti biasa. Lukisan yang setiap malam dibuatnya. Lukisan bintang.

Tangannya mulai menyentuh kuas putih di hadapannya.  Dengan satu sapuan, warna hitam sudah membelah kedua sisi kanvasnya. Tapi detik berikutnya, dia kembali menyimpan kuasnya. Hanya ada sapuan warna hitam yang terbentuk di kanvasnya itu. Membelah putih menjadi dua bagian.

Gadis itu menunduk. Membiarkan rambut pirangnya terurai begitu saja. Kemudian kembali mengangkat kepalanya. Tangannya menggapai teropong kecil miliknya. Teropong yang sudah dimilikinya sejak dia masih kecil. Pemberian dia, pemuda dengan mata hitam itu.

Bulir bening bergulir di pipi mulusnya.

“Dimana bintang tempatmu?” tanyanya lagi. Dia tahu persis untuk siapa pertanyaan ini.

Dia kembali menyimpan teropongnya. Menatap bintang sedekat itu membuatnya sesak. Tapi jika tidak melihat bintang, rindunya lah yang akan menyesak. Sambil terisak, dia mengeluarkan benda berwarna biru terang itu dari dalam kantung kainnya. Menggengganya dalam. Ada hangat yang menjalar sampai ke hatinya setiap kali menyentuh benda itu.

Pertama kali dia menemukannya, benda itu ada di meja di samping tempat tidurnya. Benda itu menyala seperti api. Tapi warnanya biru. Indah. Berbentuk seperti pahatan hati. Dan dia tahu sekali. Dia sangat tahu benda apa yang ada di genggamannya itu. Ya, itu adalah patahan bintang. Patahan bintang yang dijanjikan kekasihnya. Ardri.

Janjinya ditepati. Patahan bintang itu memang untuk Gheya. Tapi sampai saat ini, Ardri belum juga kembali. Hanya patahan bintang itu yang datang. Tidak dengan seseorang yang menjanjikannya. Tapi Gheya sudah berjanji. Dia akan menunggu. Akan selalu menunggu. Bahkan sampai tak terbatas waktu.

Meskipun dia tak tahu alasan Ardri harus pergi itu apa dan kenapa. Tapi dia tak peduli lagi sekarang. Yang dipedulikannya sekarang adalah datangnya Ardri.
Dan dia akan menunggunya. Setia dengan teropong dan lukisannya. Bersama dengan malam dan dinginnya. Juga dengan bintang. Dan patahan bintangnya.

-o0o-

Kau tak tahu siapa kau sebenarnya. Tapi aku tahu. Karena aku yang menemukanmu, saat itu. Saat kau dan bintangmu jatuh. Aku tak tahu pastinya kau itu apa. Tapi dari sayap di punggungmu, aku bisa menebaknya. Kau mungkin bidadari, atau peri. Tapi aku tak peduli. Karena saat melihatmu, aku jatuh cinta. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Saat Dewa Langit turun untuk melihatmu, aku juga melihatnya. Dia bilang waktumu sudah habis. Jadi kau akan hilang. Menjadi debu, jika aku tidak salah ingat. Tapi entah karena bodohnya aku atau karena terpesona melihatmu, aku menerima persyaratan agar kau tidak berubah menjadi debu. Aku akan menggantikan dirimu.

Tentu saja, aku juga tidak bodoh. Sebelum aku menggantikanmu, aku meminta untuk bisa bersama denganmu. Tidak lama memang. Tapi aku masih bersyukur karena Dewa Langit mau mengabulkan permintaanku. Jadi, di sinilah aku sekarang. Bersamamu. Meskipun kutahu ini tak akan lama. Tapi aku senang telah melihatmu seperti sekarang.

Saat itu umurku tujuh belas tahun. Itu pertama kalinya aku jatuh cinta. Kau tahu, sayapmu sangat indah. Aku tak tega melihatmu hancur begitu saja. Dewa Langit membritahuku bahwa kau akan berada dalam tubuh seorang gadis yang seumuran denganku. Kemudia aku bertemu denganmu. Entah bagaimana caranya, tapi aku mengenalimu.

Tapi kau tidak mengenaliku, tentu saja. Ternyata kau lebih menyebalkan dari penampilanmu saat itu. Tapi tetap saja, kau membuatku jatuh cinta kedua kalinya padamu. Aku jatuh cinta lagi, pada orang yang sama.

Em, baiklah, sepertinya aku terlalu banyak bercerita. Sebenarnya aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku hanya ingin kau bahagia meskipun kutahu setelah ini kau akan terus menunggu. Sedangkan aku, tak tahu kapan aku harus pulang. Atau mungkin aku tak akan pulang.

Tapi, ini akan menjadi temanmu. Ini adalah bintangmu. Em, lebih tepatnya, patahan bintang yang kutemukan saat aku menemukanmu. Ini patahan dari bintangyang kau jaga. Lalu sekarang, aku yang akan menjaga bintangmu itu. Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu. Aku mencintainya, tapi tak akan lebih besar dari cintaku padamu.

Jadi, ya, selamat tinggal. Aku berharap agar kau selalu bahagia. Aku juga pasti akan bahagia jika melhatmu bahagia. Dan aku akan selalu melihatmu. Seperti kau yang selalu melihat bintang.

Kau akan mengenali bintangmu sendiri. Bintang tempatku berdiri.

-selesai-

Kamis, 04 Oktober 2012

Aku Seorang Ayah


Apakah aku menyerah kepada keduniawian,

karena menginginkan lebih waktu?
Atau tanpa sadar,
Hariku lebih pendek dari kalian?

Apa pun jawaban yang kuterima,
Hari yang kemarin kusebut esok telah tiba
Sama seperti kemarin,
Aku menyesal sebelum tertidur,
Belum temukan jalan untuk bahagia

Sekarang,
Dengan bersimpuh kutanya apa salahku?
Karena kehidupan,
Tidak pernah sesuai dengan apa yang kuperjuangkan

Tidak harus saat ini ataupun esok pasti
Tapi Ijinkan aku ada pada barisan nama dunia
Tidak dengan berkuasa harta ataupun cinta
Tapi ijinkan aku berkata

Aku seorang Ayah


By : Rick Luck

Rabu, 03 Oktober 2012

Karena Kini, Dia ...


Aku melihatnya ...
Aku menemukannya ...
Tapi kenapa? Kenapa seperti ini?
Masihkah dia mengenaliku ...?

Birunya .. menunjukan itu ....
Tersibak ...
Dan aku berharap ada jawaban akan tanyaku tentang 'kenapa?'...
Dia ...kini ...
Aku merindukan senyum bintang itu...
Kapan?
Kenapa?

(Wanda Kania, 4 Oktober 2012)

Selasa, 02 Oktober 2012

Sendiri



Masih di sini aku bersama sepi
Diantara desir angin malam hari



Sendiri
Menanti matahari pagi menyapa hati
Lalu menanti senja menjinggakan nadi

Kadang aku tertawa
Hingga suaranya lindap dicecap udara
Kadang aku menangis
Hingga air mata mengering tersapu kabut tak bernama
Kadang aku berteriak
Hingga sunyi membungkam selaksa kata

Aku sendiri
Meraih satu persatu bintang,
Yang kutaruh diantara asa yang telah lebam
Agar kiranya,
Kesepian tak lantas membuat duniaku kelam





(Mutaminah, 3 Oktober 2012)

Puisi Tanpa Judul

Malam ini masih sama
Angin mendesir menelusur gurat-gurat darah
Kalong-kalong berterbangan
Memetik ranumnya kantuk yang menggelantungi pelupuk mata

Dua jam lebih asap-asap memenuhi kerongkongan
Lalu lalang debu-debu jalang memperkosa tenggorokan
Kalong-kalong tadi sangat serakah
Tak sisa sedikitpun kantuk
Bahkan untuk lelahku yang memucuk

Detik menit tergilas roda
Terangnya lampu tak mampu melawan pekatnya cuaca
Ditambah aroma busuk para buaya
Malam makin sempurna

Ah, mungkin tak lama lagi dia tiba
Membawa sebungkus nasi dan seikat doa

*Terdengar sayup-sayup adzan awal membelai telinga
Dan wanita itu masih terjaga
Memegangi perutnya
Yang terisi mahluk pencari bapak





(Suhe Herman, 2 Oktober 2012)

Pendekar di Ujung Jalan


Ada yang berbeda
ketika kaki tak mampu berpisah dari tanah
dan leher kaku tak mampu menoleh

Ada yang berbeda
ketika angin berhenti berkata-kata
dan udara mengikat raga

Ada yang berbeda
ketika sejuta mata pedang berterbangan
dan memasung jantung dalam setiap matanya

Ada yang terlena
ketika tubuh meregang
dan terkapar menyerah tanpa daya





(Cem Acem, 1 Oktober 2012)