Angin mendesir menelusur gurat-gurat darah
Kalong-kalong berterbangan
Memetik ranumnya kantuk yang menggelantungi pelupuk mata
Dua jam lebih asap-asap memenuhi kerongkongan
Lalu lalang debu-debu jalang memperkosa tenggorokan
Kalong-kalong tadi sangat serakah
Tak sisa sedikitpun kantuk
Bahkan untuk lelahku yang memucuk
Detik menit tergilas roda
Terangnya lampu tak mampu melawan pekatnya cuaca
Ditambah aroma busuk para buaya
Malam makin sempurna
Ah, mungkin tak lama lagi dia tiba
Membawa sebungkus nasi dan seikat doa
*Terdengar sayup-sayup adzan awal membelai telinga
Dan wanita itu masih terjaga
Memegangi perutnya
Yang terisi mahluk pencari bapak
Kalong-kalong berterbangan
Memetik ranumnya kantuk yang menggelantungi pelupuk mata
Dua jam lebih asap-asap memenuhi kerongkongan
Lalu lalang debu-debu jalang memperkosa tenggorokan
Kalong-kalong tadi sangat serakah
Tak sisa sedikitpun kantuk
Bahkan untuk lelahku yang memucuk
Detik menit tergilas roda
Terangnya lampu tak mampu melawan pekatnya cuaca
Ditambah aroma busuk para buaya
Malam makin sempurna
Ah, mungkin tak lama lagi dia tiba
Membawa sebungkus nasi dan seikat doa
*Terdengar sayup-sayup adzan awal membelai telinga
Dan wanita itu masih terjaga
Memegangi perutnya
Yang terisi mahluk pencari bapak
(Suhe Herman, 2 Oktober 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar