Kumpulan sejuta kreasi rangkaian kata dari komunitas kepenulisan Banceuy (Bandung Cendolers EUY ...!!!)
Minggu, 14 Oktober 2012
Gombalan Lewat Puisi
Oleh : Jang Syauqi (Kelas puisi, Banceuy, 14 Oktober 2012)
Ketika mentari tinggal sepotong
Ketika sisa hari tak penuh lagi
Baru kumenyadari betapa lelahnya diriku
Terlebih lagi... hatiku!
Bila penantian ini masih panjang tersisa
Tolong, beri aku satu kepastian
Agar janji dan arti setia
Tetap utuh senantiasa
Gadis Cantik
Oleh : Rick Luck
Aku berjalan hari minggu
Tiba-tiba ada yang mengganggu
Disebalah kananku dia tersenyum manis
Ternyata gadis cantik dari Ciamis
Kutanya siapa namamu
Katanya Marlena sambil tersenyum
Bolehkah aku kerumahmu
Tentu katanya sambil tersipu malu
Aku berjalan hari minggu
Tiba-tiba ada yang mengganggu
Disebalah kananku dia tersenyum manis
Ternyata gadis cantik dari Ciamis
Kutanya siapa namamu
Katanya Marlena sambil tersenyum
Bolehkah aku kerumahmu
Tentu katanya sambil tersipu malu
Aku Pikir
Oleh : Jang Syauqi (Kelas puisi, Banceuy, 14 Oktober 2012)
Kupikir, jeda waktu bisa mengikis rasa
Bentang jarak mampu membuat lupa
Ternyata aku keliru
Namamu tetap bercokol kuat di hatiku
(dan kamu tak pernah tahu)
Ini bukan rindu madu cinta
Sebab aku tanpa kamu mana boleh disebut cinta
Tapi ini rindu racun luka
Luka akibat salah memilah rasa
(dan kamu tak boleh tahu)
Ah, andikan saja kau rasakan juga
Kupikir, jeda waktu bisa mengikis rasa
Bentang jarak mampu membuat lupa
Ternyata aku keliru
Namamu tetap bercokol kuat di hatiku
(dan kamu tak pernah tahu)
Ini bukan rindu madu cinta
Sebab aku tanpa kamu mana boleh disebut cinta
Tapi ini rindu racun luka
Luka akibat salah memilah rasa
(dan kamu tak boleh tahu)
Ah, andikan saja kau rasakan juga
Kepada Seorang Perempuan Muda di Perempatan
Oleh : Mutaminah (kelas puisi Banceuy, 14 Oktober 2012)
Di antara sebuah lagu tanpa nada
Di perempatan saat lampu merah menyala
Ada tanya yang mengusik dalam dada
Apakah kau tengah mempertontonkan padanya
Kerasnya kehidupan yang harus mampu tertangguhkan?
Ataukah kau tengah mengajarinya melabuhkan nasib pada belas kasihan orang?
Aku tergugu
Menyelami kedua kelopak mata bayi dalam gendonganmu
Yang terkatup bisu
Di antara berkah penderitaan yang tengah kau seret ke jalanan
Patutkah?
Hatiku gerimis mendapatimu dirimu berbasuh debu jalanan
Kau merendahkan dirimu demi sehelai kertas bergambar pahlawan
Atau setidaknya beberapa keping logam karatan
Hanya sebatas inikah takdir yang mampu kau tebus dari Tuhan untuk anakmu?
Katanya hidup itu pilihan
Tapi mengapa jalan ini yang kau ambil?
Di antara sebuah lagu tanpa nada
Di perempatan saat lampu merah menyala
Ada tanya yang mengusik dalam dada
Apakah kau tengah mempertontonkan padanya
Kerasnya kehidupan yang harus mampu tertangguhkan?
Ataukah kau tengah mengajarinya melabuhkan nasib pada belas kasihan orang?
Aku tergugu
Menyelami kedua kelopak mata bayi dalam gendonganmu
Yang terkatup bisu
Di antara berkah penderitaan yang tengah kau seret ke jalanan
Patutkah?
Hatiku gerimis mendapatimu dirimu berbasuh debu jalanan
Kau merendahkan dirimu demi sehelai kertas bergambar pahlawan
Atau setidaknya beberapa keping logam karatan
Hanya sebatas inikah takdir yang mampu kau tebus dari Tuhan untuk anakmu?
Katanya hidup itu pilihan
Tapi mengapa jalan ini yang kau ambil?
Ini Bukan Tentang Warna
Oleh : Putra Jatijajar
Terjatuh lembut butiran pasir di wajahnya.
Aku bukan memaksanya untuk diam di tepian jalan itu.
Mentaripun mendukung lajunya waktu.
Terjatuh lembut butiran pasir di wajahnya.
Aku bukan memaksanya untuk diam di tepian jalan itu.
Mentaripun mendukung lajunya waktu.
Berteman dengan awan.
Dia berjalan di lorong jalan.
Tapi bukan yang di tengah kota.
Hanya di gang sempit.
Merah dan putih, dan sore itu, semua jelas.
Indondonesia Raya, Berkumandang sebuah lagu kebangsaan.
Ini bukan soal 17 Agustus.
Bukan juga tentang warna.
Tapi ini tentang kita.
Wahai anak muda, dimana semangatmu
Dia berjalan di lorong jalan.
Tapi bukan yang di tengah kota.
Hanya di gang sempit.
Merah dan putih, dan sore itu, semua jelas.
Indondonesia Raya, Berkumandang sebuah lagu kebangsaan.
Ini bukan soal 17 Agustus.
Bukan juga tentang warna.
Tapi ini tentang kita.
Wahai anak muda, dimana semangatmu
13 Oktober 2012
Saat Kita
Oleh Noey Ismii
Riuhnya suara mereka
Kadang dibarengi dengan tawa
Tak jarang ada kesal diantaranya
Tapi tetap satu suara
Tak ada yang bisa terlupa
Saat kita semua bersama
Berbagi canda dan tawa
Menjadi satu dalam banyak kepala
Kini kita telah saling berbeda
Jarang sekali ada waktu bersama
Tapi kita masih saling menyapa
Walau hanya di dunia maya
Kita tetap satu suara
Tetap menjadi satu kepala
Meskipun tak lagi di dunia nyata
Meskipun tak bisa lagi bersama
Kadang dibarengi dengan tawa
Tak jarang ada kesal diantaranya
Tapi tetap satu suara
Tak ada yang bisa terlupa
Saat kita semua bersama
Berbagi canda dan tawa
Menjadi satu dalam banyak kepala
Kini kita telah saling berbeda
Jarang sekali ada waktu bersama
Tapi kita masih saling menyapa
Walau hanya di dunia maya
Kita tetap satu suara
Tetap menjadi satu kepala
Meskipun tak lagi di dunia nyata
Meskipun tak bisa lagi bersama
Cerpen : Patahan Bintang
Oleh: Noey Ismii
“Kau pernah melihat bintang?”
“Kau bercanda? Tentu saja sudah! Setiap malam aku melihatnya! Atau kau lupa bahwa aku sangat menyukai bintang?”
“Tentu saja aku tidak pernah lupa. Tapi kau belum pernah melihat bintang di depan matamu, kan?”
“Aku melihat bintang di langit malam.”
“Kau harus melihat patahan bintang!”
“…”
“Aku akan mencarikannya untukmu.”
“Cari? Kemana?”
“Kau tidak akan percaya jika aku bilang sekarang. Tapi kau akan terkejut saat kubawakan satu untukmu.”
“Memangnya kau bisa terbang sampai kau mau membawakan satu bintang untukku?”
“Aku tidak akan memberimu bintang. Tapi aku akan memberi patahan bintang!”
“Apa bedanya?”
“Tentu saja beda.”
“Kau mau membodohiku?”
“…”
“Bilang saja jika kau sedang membodohiku!”
“Aku …”
“Benar, kan? Kau tidak bisa mengelak!”
“Aku harus pergi.”
“…”
“Aku harus meninggalkanmu.”
“…”
“Aku akan pergi, ke bintang.”
“Jangan bercanda! Itu sama sekali tidak lucu!”
“Aku tidak bercanda. Aku akan pergi. Nanti, jika aku kembali, aku akan membawakan patahan bintang untukmu.”
“Kau …”
“Kau mau menungguku?”
“…”
“Gheya …”
“Jangan pergi!”
“Tapi aku harus pergi”
“Aku tidak mengizinkanmu pergi!”
“Ini harus kulakukan, Gheya. Ini untukmu juga.”
“Ini bukan untukku! Ini untuk dirimu sendiri!”
“Tolong hilangkan dulu egoismu itu.”
“Aku hanya ingin agar kau tidak pergi. Kau yang egois!”
“Aku melakukannya untuk kita.”
“Kenapa kau harus pergi? Untuk apa? Apa aku tidak berarti untukmu? Apa yang membuatmu harus pergi?”
“Aku tak pernah meminta apapun. Karena semua yang aku inginkan ada di depanku sekarang. Semua yang aku harapkan ada pada dirimu. Tapi aku harus tetap pergi.”
“Untuk apa?!”
“Untuk kita.”
“Kita?! Kau! Ini hanya untukmu! Lalu aku? Bagaimana denganku?”
“Kau akan menungguku.”
“Aku tidak akan menunggu!”
“Aku tahu kau akan menungguku!”
“…”
“Benar, kan?”
“…”
“Gheya …”
“Kapan kau kembali?”
“Tidak lama. Tidak akan lama …”
-o0o-
Malam kembali datang. Gelap kembali menyerang. Angin dingin pun kembali bertiup. Binatang malam seperti tak mau ketinggalan, setia meramaikan malam. Bulan purnama terbentuk bulat sempurna di atas mega. Awan tipis membingkai cahaya pantulannya. Lalu bintang, dengan setia menemani rembulan. Juga seorang gadis yang juga setia menemani bintang.
Mata biru terang itu masih menatap satu per satu bintang yang berkedip di langit malam itu. Kemudian pandangannya beralih pada kanvas putih di hadapannya. Belum ada yang terlukis disana. Tapi sebentar lagi, kanvas itu akan segera terisi. Seperti biasa. Lukisan yang setiap malam dibuatnya. Lukisan bintang.
Tangannya mulai menyentuh kuas putih di hadapannya. Dengan satu sapuan, warna hitam sudah membelah kedua sisi kanvasnya. Tapi detik berikutnya, dia kembali menyimpan kuasnya. Hanya ada sapuan warna hitam yang terbentuk di kanvasnya itu. Membelah putih menjadi dua bagian.
Gadis itu menunduk. Membiarkan rambut pirangnya terurai begitu saja. Kemudian kembali mengangkat kepalanya. Tangannya menggapai teropong kecil miliknya. Teropong yang sudah dimilikinya sejak dia masih kecil. Pemberian dia, pemuda dengan mata hitam itu.
Bulir bening bergulir di pipi mulusnya.
“Dimana bintang tempatmu?” tanyanya lagi. Dia tahu persis untuk siapa pertanyaan ini.
Dia kembali menyimpan teropongnya. Menatap bintang sedekat itu membuatnya sesak. Tapi jika tidak melihat bintang, rindunya lah yang akan menyesak. Sambil terisak, dia mengeluarkan benda berwarna biru terang itu dari dalam kantung kainnya. Menggengganya dalam. Ada hangat yang menjalar sampai ke hatinya setiap kali menyentuh benda itu.
Pertama kali dia menemukannya, benda itu ada di meja di samping tempat tidurnya. Benda itu menyala seperti api. Tapi warnanya biru. Indah. Berbentuk seperti pahatan hati. Dan dia tahu sekali. Dia sangat tahu benda apa yang ada di genggamannya itu. Ya, itu adalah patahan bintang. Patahan bintang yang dijanjikan kekasihnya. Ardri.
Janjinya ditepati. Patahan bintang itu memang untuk Gheya. Tapi sampai saat ini, Ardri belum juga kembali. Hanya patahan bintang itu yang datang. Tidak dengan seseorang yang menjanjikannya. Tapi Gheya sudah berjanji. Dia akan menunggu. Akan selalu menunggu. Bahkan sampai tak terbatas waktu.
Meskipun dia tak tahu alasan Ardri harus pergi itu apa dan kenapa. Tapi dia tak peduli lagi sekarang. Yang dipedulikannya sekarang adalah datangnya Ardri.
Dan dia akan menunggunya. Setia dengan teropong dan lukisannya. Bersama dengan malam dan dinginnya. Juga dengan bintang. Dan patahan bintangnya.
-o0o-
Kau tak tahu siapa kau sebenarnya. Tapi aku tahu. Karena aku yang menemukanmu, saat itu. Saat kau dan bintangmu jatuh. Aku tak tahu pastinya kau itu apa. Tapi dari sayap di punggungmu, aku bisa menebaknya. Kau mungkin bidadari, atau peri. Tapi aku tak peduli. Karena saat melihatmu, aku jatuh cinta. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Saat Dewa Langit turun untuk melihatmu, aku juga melihatnya. Dia bilang waktumu sudah habis. Jadi kau akan hilang. Menjadi debu, jika aku tidak salah ingat. Tapi entah karena bodohnya aku atau karena terpesona melihatmu, aku menerima persyaratan agar kau tidak berubah menjadi debu. Aku akan menggantikan dirimu.
Tentu saja, aku juga tidak bodoh. Sebelum aku menggantikanmu, aku meminta untuk bisa bersama denganmu. Tidak lama memang. Tapi aku masih bersyukur karena Dewa Langit mau mengabulkan permintaanku. Jadi, di sinilah aku sekarang. Bersamamu. Meskipun kutahu ini tak akan lama. Tapi aku senang telah melihatmu seperti sekarang.
Saat itu umurku tujuh belas tahun. Itu pertama kalinya aku jatuh cinta. Kau tahu, sayapmu sangat indah. Aku tak tega melihatmu hancur begitu saja. Dewa Langit membritahuku bahwa kau akan berada dalam tubuh seorang gadis yang seumuran denganku. Kemudia aku bertemu denganmu. Entah bagaimana caranya, tapi aku mengenalimu.
Tapi kau tidak mengenaliku, tentu saja. Ternyata kau lebih menyebalkan dari penampilanmu saat itu. Tapi tetap saja, kau membuatku jatuh cinta kedua kalinya padamu. Aku jatuh cinta lagi, pada orang yang sama.
Em, baiklah, sepertinya aku terlalu banyak bercerita. Sebenarnya aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku hanya ingin kau bahagia meskipun kutahu setelah ini kau akan terus menunggu. Sedangkan aku, tak tahu kapan aku harus pulang. Atau mungkin aku tak akan pulang.
Tapi, ini akan menjadi temanmu. Ini adalah bintangmu. Em, lebih tepatnya, patahan bintang yang kutemukan saat aku menemukanmu. Ini patahan dari bintangyang kau jaga. Lalu sekarang, aku yang akan menjaga bintangmu itu. Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu. Aku mencintainya, tapi tak akan lebih besar dari cintaku padamu.
Jadi, ya, selamat tinggal. Aku berharap agar kau selalu bahagia. Aku juga pasti akan bahagia jika melhatmu bahagia. Dan aku akan selalu melihatmu. Seperti kau yang selalu melihat bintang.
Kau akan mengenali bintangmu sendiri. Bintang tempatku berdiri.
-selesai-
Kamis, 04 Oktober 2012
Aku Seorang Ayah
Apakah aku menyerah kepada keduniawian,
karena menginginkan lebih waktu?
Atau tanpa sadar,
Hariku lebih pendek dari kalian?
Apa pun jawaban yang kuterima,
Hari yang kemarin kusebut esok telah tiba
Sama seperti kemarin,
Aku menyesal sebelum tertidur,
Belum temukan jalan untuk bahagia
Sekarang,
Dengan bersimpuh kutanya apa salahku?
Karena kehidupan,
Tidak pernah sesuai dengan apa yang kuperjuangkan
Tidak harus saat ini ataupun esok pasti
Tapi Ijinkan aku ada pada barisan nama dunia
Tidak dengan berkuasa harta ataupun cinta
Tapi ijinkan aku berkata
Aku seorang Ayah
Atau tanpa sadar,
Hariku lebih pendek dari kalian?
Apa pun jawaban yang kuterima,
Hari yang kemarin kusebut esok telah tiba
Sama seperti kemarin,
Aku menyesal sebelum tertidur,
Belum temukan jalan untuk bahagia
Sekarang,
Dengan bersimpuh kutanya apa salahku?
Karena kehidupan,
Tidak pernah sesuai dengan apa yang kuperjuangkan
Tidak harus saat ini ataupun esok pasti
Tapi Ijinkan aku ada pada barisan nama dunia
Tidak dengan berkuasa harta ataupun cinta
Tapi ijinkan aku berkata
Aku seorang Ayah
By : Rick Luck
Rabu, 03 Oktober 2012
Karena Kini, Dia ...
Aku melihatnya ...
Aku menemukannya ...
Tapi kenapa? Kenapa seperti ini?
Masihkah dia mengenaliku ...?
Birunya .. menunjukan itu ....
Tersibak ...
Dan aku berharap ada jawaban akan tanyaku tentang 'kenapa?'...
Dia ...kini ...
Aku merindukan senyum bintang itu...
Kapan?
Kenapa?
(Wanda Kania, 4 Oktober 2012)
Selasa, 02 Oktober 2012
Sendiri
Masih di sini aku bersama sepi
Diantara desir angin malam hari
Sendiri
Menanti matahari pagi menyapa hati
Lalu menanti senja menjinggakan nadi
Kadang aku tertawa
Hingga suaranya lindap dicecap udara
Kadang aku menangis
Hingga air mata mengering tersapu kabut tak bernama
Kadang aku berteriak
Hingga sunyi membungkam selaksa kata
Aku sendiri
Meraih satu persatu bintang,
Yang kutaruh diantara asa yang telah lebam
Agar kiranya,
Kesepian tak lantas membuat duniaku kelam
(Mutaminah, 3 Oktober 2012)
Puisi Tanpa Judul
Malam ini masih sama
Angin mendesir menelusur gurat-gurat darah
Kalong-kalong berterbangan
Memetik ranumnya kantuk yang menggelantungi pelupuk mata
Dua jam lebih asap-asap memenuhi kerongkongan
Lalu lalang debu-debu jalang memperkosa tenggorokan
Kalong-kalong tadi sangat serakah
Tak sisa sedikitpun kantuk
Bahkan untuk lelahku yang memucuk
Detik menit tergilas roda
Terangnya lampu tak mampu melawan pekatnya cuaca
Ditambah aroma busuk para buaya
Malam makin sempurna
Ah, mungkin tak lama lagi dia tiba
Membawa sebungkus nasi dan seikat doa
*Terdengar sayup-sayup adzan awal membelai telinga
Dan wanita itu masih terjaga
Memegangi perutnya
Yang terisi mahluk pencari bapak
Kalong-kalong berterbangan
Memetik ranumnya kantuk yang menggelantungi pelupuk mata
Dua jam lebih asap-asap memenuhi kerongkongan
Lalu lalang debu-debu jalang memperkosa tenggorokan
Kalong-kalong tadi sangat serakah
Tak sisa sedikitpun kantuk
Bahkan untuk lelahku yang memucuk
Detik menit tergilas roda
Terangnya lampu tak mampu melawan pekatnya cuaca
Ditambah aroma busuk para buaya
Malam makin sempurna
Ah, mungkin tak lama lagi dia tiba
Membawa sebungkus nasi dan seikat doa
*Terdengar sayup-sayup adzan awal membelai telinga
Dan wanita itu masih terjaga
Memegangi perutnya
Yang terisi mahluk pencari bapak
(Suhe Herman, 2 Oktober 2012)
Pendekar di Ujung Jalan
Ada yang berbeda
ketika kaki tak mampu berpisah dari tanah
dan leher kaku tak mampu menoleh
Ada yang berbeda
ketika angin berhenti berkata-kata
dan udara mengikat raga
Ada yang berbeda
ketika sejuta mata pedang berterbangan
dan memasung jantung dalam setiap matanya
Ada yang terlena
ketika tubuh meregang
dan terkapar menyerah tanpa daya
dan leher kaku tak mampu menoleh
Ada yang berbeda
ketika angin berhenti berkata-kata
dan udara mengikat raga
Ada yang berbeda
ketika sejuta mata pedang berterbangan
dan memasung jantung dalam setiap matanya
Ada yang terlena
ketika tubuh meregang
dan terkapar menyerah tanpa daya
(Cem Acem, 1 Oktober 2012)
Minggu, 30 September 2012
Paanggang Raga
Katineung nu nonggongan peuting,
geusan simpe dina bangbaluh hate.
Ka mana panon nu mindeng suub ku kaheman,
kadupak samagaha lantaran pajauh raga.
Nu lungse ku katresna
ngan ukur nyiruruk dina kuwung-kuwung bentang,
neang nu anggang teu kagupay ku panyawang.
-Lis-
Nu lungse ku katresna
ngan ukur nyiruruk dina kuwung-kuwung bentang,
neang nu anggang teu kagupay ku panyawang.
-Lis-
(Banceuy, 19 September 2012)
Katineung
Aya tapak nu ngagantung dina langit panineungan,
hanjelu dina tungtung lumaku.
Teu matak ngorejat eta panggupay,
teu weleh ngirut..
Sapanjang jalan katineung, sok aya kaludeung
siga nu munggaran manggih katresna."
-Lis-
Sapanjang jalan katineung, sok aya kaludeung
siga nu munggaran manggih katresna."
-Lis-
(Banceuy, 19 September 2012)
Surat untuk Ibu Penjual Gorengan
Kepada seorang ibu penjual gorengan yang lebih tangguh dari karang di dasar lautan ....
Bu, saat pertama kali aku berjumpa denganmu, ada rasa iba yang menyelusup di dadaku. Pada usia yang telah menuai senja, tidak juga lelah mampu mengusik kegigihanmu. Diantara lima ratus demi lima ratus rupiah, kaugantungkan harapan beraroma kegetiran. Diantara tiap tetes peluhmu yang kerap kali menjadi begitu usang dihempas teriknya siang, tiga nyawa dipertaruhkan.
Bu, kulihat tubuhmu begitu kurus dilindas nyinyirnya ketegaran. Mungkin selama ini kau telah berjuang, mendobrak segala ketidakberdayaan. Mengabdi lebih dari 24 jam yang dijatahkan Tuhan. Aku percaya, kau lebih dari sekedar kata “tangguh”.
Bu, pada perjumpaan kita yang kedua, ketiga, dan perjumpaan-perjumpaan selanjutnya, aku mulai mengenal pahitnya hidup yang kau tenggak setiap hari, setiap detik, tanpa jeda. Semuanya membuatku malu, pada keluh kesah yang sempat mendesah, sedang kau, mungkin bahkan kau telah lupa pada kedua kata itu.
Kau hebat, Bu. Hebat sekali. Tak sekali pun kudengar kau menyesali jalan kehidupan yang Tuhan gariskan untukmu, meski aku sadar itu semua pasti sangat sulit untuk kaujalani. Terkadang aku ingin menangis setiap kali kisah itu kausisipkan pada tiap potong gorengan yang kaujual; tentang beratnya menjadi seorang ibu, seorang ayah, sekaligus seorang istri yang baik bagi keluargamu.
Kau tak pernah menggugat Tuhan yang telah menjodohkanmu dengan seorang lelaki lumpuh, yang tiap hari kaurawat penuh kesabaran. Kau tak pernah meminta agar Tuhan meniadakan tugas mencari nafkah dari buku tugas kehidupanmu, kau hanya selalu meminta agar suamimu disembuhkan. Kau juga tak pernah meminta agar bebanmu diringankan, tapi kau meminta agar diberi kekuatan.
Ah bu, kau begitu mahir menikmati shubuh dengan peluh. Kau begitu lihai menghabiskan senja dalam asa yang menguap tanpa kata. Tak satu pun mampu membuatmu terhempas dan jatuh, tidak hujan, tidak juga badai.
Bu, aku ini hanya perempuan dengan tangan hampa. Maaf, jika aku hanya mampu memuji dan belajar darimu, tanpa sesuatu pun kupersembahkan untukmu. Tapi Bu, aku punya Tuhan, yang bisa memberimu segala. Bu, semoga gerimis dalam hidupmu segera usai, mencipta 7 warna pelangi yang rebah di hatimu...
Bu, saat pertama kali aku berjumpa denganmu, ada rasa iba yang menyelusup di dadaku. Pada usia yang telah menuai senja, tidak juga lelah mampu mengusik kegigihanmu. Diantara lima ratus demi lima ratus rupiah, kaugantungkan harapan beraroma kegetiran. Diantara tiap tetes peluhmu yang kerap kali menjadi begitu usang dihempas teriknya siang, tiga nyawa dipertaruhkan.
Bu, kulihat tubuhmu begitu kurus dilindas nyinyirnya ketegaran. Mungkin selama ini kau telah berjuang, mendobrak segala ketidakberdayaan. Mengabdi lebih dari 24 jam yang dijatahkan Tuhan. Aku percaya, kau lebih dari sekedar kata “tangguh”.
Bu, pada perjumpaan kita yang kedua, ketiga, dan perjumpaan-perjumpaan selanjutnya, aku mulai mengenal pahitnya hidup yang kau tenggak setiap hari, setiap detik, tanpa jeda. Semuanya membuatku malu, pada keluh kesah yang sempat mendesah, sedang kau, mungkin bahkan kau telah lupa pada kedua kata itu.
Kau hebat, Bu. Hebat sekali. Tak sekali pun kudengar kau menyesali jalan kehidupan yang Tuhan gariskan untukmu, meski aku sadar itu semua pasti sangat sulit untuk kaujalani. Terkadang aku ingin menangis setiap kali kisah itu kausisipkan pada tiap potong gorengan yang kaujual; tentang beratnya menjadi seorang ibu, seorang ayah, sekaligus seorang istri yang baik bagi keluargamu.
Kau tak pernah menggugat Tuhan yang telah menjodohkanmu dengan seorang lelaki lumpuh, yang tiap hari kaurawat penuh kesabaran. Kau tak pernah meminta agar Tuhan meniadakan tugas mencari nafkah dari buku tugas kehidupanmu, kau hanya selalu meminta agar suamimu disembuhkan. Kau juga tak pernah meminta agar bebanmu diringankan, tapi kau meminta agar diberi kekuatan.
Ah bu, kau begitu mahir menikmati shubuh dengan peluh. Kau begitu lihai menghabiskan senja dalam asa yang menguap tanpa kata. Tak satu pun mampu membuatmu terhempas dan jatuh, tidak hujan, tidak juga badai.
Bu, aku ini hanya perempuan dengan tangan hampa. Maaf, jika aku hanya mampu memuji dan belajar darimu, tanpa sesuatu pun kupersembahkan untukmu. Tapi Bu, aku punya Tuhan, yang bisa memberimu segala. Bu, semoga gerimis dalam hidupmu segera usai, mencipta 7 warna pelangi yang rebah di hatimu...
(Mutaminah Althafurrahmah, 22 September 2012)
Rock N Roll
Keur, Dede Rohyan
Ngagadékeun haté na calacah wakil katugenah
Mangsa urang nyangsaya di juru kafé
Rolling Stone notoskeun simpe nu meh bedah
Peuting dicangkalak sagelas wiski
Makna ucap paburisat laluncatan
Tina sirah nu ngan saukur sabeulah
Sanajan batin peurih di turih kasedih
Kuring tetep micinta ajeun ku sagelas wiski
Na kaca jandela ngalokat sajarah
Ngitung deui poé-poé katukang nu méh poho
Ngimpi kamari geuning katunung wanci
Nu beuki ngéléséd ka lebah janari
Rolling Stone notoskeun simpe nu meh bedah
Peuting dicangkalak sagelas wiski
Makna ucap paburisat laluncatan
Tina sirah nu ngan saukur sabeulah
Sanajan batin peurih di turih kasedih
Kuring tetep micinta ajeun ku sagelas wiski
Na kaca jandela ngalokat sajarah
Ngitung deui poé-poé katukang nu méh poho
Ngimpi kamari geuning katunung wanci
Nu beuki ngéléséd ka lebah janari
(Tatang Pahat, Banceuy, 24 September 2012)
Cita-Cita yang Tercapai
Semasa kecil, saat usiaku belum genap 6 tahun Oom dan Tante bertanya padaku, "Wan, kalau sudah besar kau mau jadi apa?" Saat itu aku belum ngerti apa cita cita, jadi sebagai jawaban atas pertanyaan itu aku hanya tersenyum dan melirik ke Mama.
Ketika usiaku genap 6 tahun, Mama mengajakku ke sebuah pernikahan, pernikahan sahabat Mama di kota Jakarta. Aku merasa senang melihat gedung-gedung menjulang tinggi, dan saat itu pun aku berkata, "Ma, kalo udah gede aku mau jadi orang yang suka bikin gedung-gedung tinggi itu." Itulah pertama kalinya aku mengenal cita cita, walau tak tahu apa sebutannya untuk pekerjaan itu, yang penting bikin gedung-gedung tinggi ... :P
"Yang benar saja, Nak, kau tak mungkin menjadi arsitek. Kamu, kan, ndak suka gambar." Sejak saat itu, kutanamkan dalam hati bahwa aku tak layak bercita cita menjadi Arsitek.
Tak terasa aku sudah masuk sekolah dasar. Aku senang belajar, hingga pada suatu hari aku bolos sekolah diajak Eyang Uti ke bandara Husein untuk menjemput bude dari Jogja. Itulah pertama kalinya aku melihat seorang pilot dan kagum kepadanya, jadi ketika Ibu Ika, guru bahasa Indonesia berkata, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!" Aku dengan bangga berkata, "Aku ingin menjadi Pilot." Guruku menjawab, "Kau tak bisa jadi pilot kalau rankingmu jelek." Ya aku memang bukan anak pintar di kelas. Lagi-lagi aku membuang cita-cita untuk menjadi pilot.
Usiaku makin bertambah dan tak terasa sudah duduk di sekolah menengah pertama. Aku senang olahraga, maka ketika guruku bertanya, "Apa yang ingin kauraih di masa depan?" Aku menjawab, "Ingin menjadi pemain Basket Nasional."
Tiba tiba seisi kelas bersorak, "Huuu ...! Badan pendek gitu mau jadi pemain basket? Mana bisa?!" Tanpa pikir panjang lagi, saat itu aku melupakan cita-citaku untuk menjadi seorang atlet basket.
Masa SMP pun berakhir, berganti menjadi berseragam abu-abu. G
uru BP memangggilku keruangannya.Masa SMP pun berakhir, berganti menjadi berseragam abu-abu. G
"Kau hendak meneruskan ke mana setelah lulus nanti?" tanya beliau saat itu. Aku berpikir sejenak lalu menjawab, "Mau jadi arsitek, gambarku jelek . Mau jadi pilot, ndak terlalu pintar. Mau jadi atlet basket, kependekan. Jadi setelah lulus nanti aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja." Aku yakin kali ini tak bakal ada yang bisa menghalangiku.
Benar saja. Sekalipun belum resmi menjadi seorang istri plus ibu rumah tangga tapi salah satu cita-citaku bisa tercapai yaitu jadi seorang istri pilot yang pintar gambar dan jago main basket ... ( Insya Allah ..^_^ )
(Esti Purwanti, 30 September 2012)
Papan Karnadeis
Suara layar terangkat
Sekoci-sekoci yang digantung
Terdorong itulah Ayah menjadi pelaut
Diusianya yang ke empat belas, Ayah jatuh cinta pada laut
Selalu, berbulan-bulan dilaluinya menikmati lekuk liku lautan
Pada laut juga ia nyatakan kerindunya pada Ibu dan aku
Sembari menyanyikan mars “Nenek moyangku seorang pelaut”
Diceritakannya padaku kisah lumba-lumba, cumi-cumi, dan ikan paus
“Apakah Ayah bertemu putri duyung?”
“Putri duyung adalah kau, karena nyanyiannya selalu mengajak para pelaut ikut berenang ke dalam lautan, ke dalam kerinduan akan rumah”
Laut dan daratan selalu saling merindukan
Saling berpagutan di bibir pantai
Laut adalah hidup, ombak saling berbentur, melarut, terbawa pusaran gelombang arus panas dan dingin
Suatu hari Ayah pulang dengan muka pucat, tanpa kisah tentang bajak laut, mercu suar, atau negeri dongeng yang disinggahinya
“Papan Karnaedis!” katanya parau
Diceritakannya tentang harta karun yang ditemukan awak kapal
Tentang kerakusan dan pembunuhan
Tentang dirinya yang terseret tragedi penyelamatan diri
Hukum papan karnaedis!
Diusiaku yang ke lima belas, aku ikut Ayah berlayar
Pertama kali melihat jangkar dilepaskan
Melihat ikan-ikan menggelepar di geladak
Diam-diam beberapa kulepaskan ke lautan, pada hidup
Hari ke tiga belas
Lempengan laut bergeser, terjadi gempa besar
Ombak menghantam kapal dan menjadikannya partikel
Terlalu tiba-tiba, cepat, singkat
Aku melayang bagai buih
Dalam air yang dingin, beku bagai es
Laut begitu gelap
Apa hidup itu memang gelap, Ayah?
Dialah Ayah, memberiku napas hingga tersadar
Membawaku ke permukaan
Ayah kenapa? Bukankah laut itu hidup?
Kenapa tidak kau biarkan saja hidup merenggut kita?
Memeluk kita dalam keabadian
Disandarkannya aku pada sepotong kayu yang tersisa dari badan kapal
Sementara ia hanya berpegang pada sisinya
Badannya yang kekar ia biarkan dilumat air
Dari dalam air bermunculan kepala-kepala dan tangan-tangan yang menggapai
Kayu itu tidak bisa menahan berat kami, oleng
Mata-mata nyalang menatapku buas, menyingkirkanku tanpa kata
Benarkah mereka yang berbagi kabin denganku?
Ayah bergulat, saling hempas, saling cakar
Ayah seperti nakhoda yang memutuskan akan ke mana arah kapal berlayar, hakim nasib
Gelombang datang lagi, menghantam
Putus asa, inikah wujud sebenarnya dari papan karnaedis?
Ayahku pelaut yang egois
Ayah tidak tahu betapa aku merindukan laut, merindukan hidup yang yang kini telah ia renggut dariku
Terapung berhari-hari sendirian
Pasrah pada takdir akan membawa
Mercu suar begitu sialau, suara peluit panjang, kapal yang mendekat
Lalu daratan ... rata
Ayah, laut ternyata bukan kehidupan
Laut juga menyimpan jutaan cerita kematian
Lalu aku seperti mendengar suara Ayah bernyanyi lewat dengung kapal yang berangkat berlayar
Sekoci-sekoci yang digantung
Terdorong itulah Ayah menjadi pelaut
Diusianya yang ke empat belas, Ayah jatuh cinta pada laut
Selalu, berbulan-bulan dilaluinya menikmati lekuk liku lautan
Pada laut juga ia nyatakan kerindunya pada Ibu dan aku
Sembari menyanyikan mars “Nenek moyangku seorang pelaut”
Diceritakannya padaku kisah lumba-lumba, cumi-cumi, dan ikan paus
“Apakah Ayah bertemu putri duyung?”
“Putri duyung adalah kau, karena nyanyiannya selalu mengajak para pelaut ikut berenang ke dalam lautan, ke dalam kerinduan akan rumah”
Laut dan daratan selalu saling merindukan
Saling berpagutan di bibir pantai
Laut adalah hidup, ombak saling berbentur, melarut, terbawa pusaran gelombang arus panas dan dingin
Suatu hari Ayah pulang dengan muka pucat, tanpa kisah tentang bajak laut, mercu suar, atau negeri dongeng yang disinggahinya
“Papan Karnaedis!” katanya parau
Diceritakannya tentang harta karun yang ditemukan awak kapal
Tentang kerakusan dan pembunuhan
Tentang dirinya yang terseret tragedi penyelamatan diri
Hukum papan karnaedis!
Diusiaku yang ke lima belas, aku ikut Ayah berlayar
Pertama kali melihat jangkar dilepaskan
Melihat ikan-ikan menggelepar di geladak
Diam-diam beberapa kulepaskan ke lautan, pada hidup
Hari ke tiga belas
Lempengan laut bergeser, terjadi gempa besar
Ombak menghantam kapal dan menjadikannya partikel
Terlalu tiba-tiba, cepat, singkat
Aku melayang bagai buih
Dalam air yang dingin, beku bagai es
Laut begitu gelap
Apa hidup itu memang gelap, Ayah?
Dialah Ayah, memberiku napas hingga tersadar
Membawaku ke permukaan
Ayah kenapa? Bukankah laut itu hidup?
Kenapa tidak kau biarkan saja hidup merenggut kita?
Memeluk kita dalam keabadian
Disandarkannya aku pada sepotong kayu yang tersisa dari badan kapal
Sementara ia hanya berpegang pada sisinya
Badannya yang kekar ia biarkan dilumat air
Dari dalam air bermunculan kepala-kepala dan tangan-tangan yang menggapai
Kayu itu tidak bisa menahan berat kami, oleng
Mata-mata nyalang menatapku buas, menyingkirkanku tanpa kata
Benarkah mereka yang berbagi kabin denganku?
Ayah bergulat, saling hempas, saling cakar
Ayah seperti nakhoda yang memutuskan akan ke mana arah kapal berlayar, hakim nasib
Gelombang datang lagi, menghantam
Putus asa, inikah wujud sebenarnya dari papan karnaedis?
Ayahku pelaut yang egois
Ayah tidak tahu betapa aku merindukan laut, merindukan hidup yang yang kini telah ia renggut dariku
Terapung berhari-hari sendirian
Pasrah pada takdir akan membawa
Mercu suar begitu sialau, suara peluit panjang, kapal yang mendekat
Lalu daratan ... rata
Ayah, laut ternyata bukan kehidupan
Laut juga menyimpan jutaan cerita kematian
Lalu aku seperti mendengar suara Ayah bernyanyi lewat dengung kapal yang berangkat berlayar
(Eva Sri Rahayu, 29 September 2012)
KALAH
Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu
Teruntuk KAMU yang tak pernah pergi,
Bahkan dalam diamku yang paling sunyi…
Kau tahu, terkadang perasaan ini membuatku sesak. Aku mencintaimu, tapi kamu tidak. Aku menyayangimu, tapi kamu mencintainya. Kau tahu seperti apa rasanya? Seperti saat kau menitipkan hatimu pada seseorang, lalu dia mencabik-cabiknya tanpa ampun. Melukai perasaan yang dengan sangat hati-hati kaujaga hanya untuknya. Dan lucunya, aku merasakan yang seperti itu setiap hari. Setiap kali aku menatapmu. Setiap kali aku mendengar suaramu. Setiap kali aku melihat kau bersamanya.
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
Kadang terbersit rasa untuk melupakanmu saja. Mengikis rasa yang tumbuh di seluruh celah hatiku. Begitu ingin menghapus gurat-gurat kerinduan yang amat menyesakkan. Tapi, Kau tahu, kan? Apa yang kita inginkan, tidak selalu bisa kita lakukan. Aku ingin memalingkan wajah darimu. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, aku tidak bisa. Bahkan untuk tidak menatapmu sehari saja, rasanya sulit sekali. Menatapmu sudah menjadi candu. Candu yang memburu. Aku mencintaimu. Katakan saja perasaanmu adalah sama. Apa itu permintaan yang terlalu sulit?
T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Terkadang aku amat membenci perasaan ini. Perasaan yang selalu membisikiku bahwa aku seorang pecundang. Pecundang yang gagal memperjuangkan hatinya sendiri. Detak jantungku pun kerap mengingatkanku, bahwa faktanya, kau memang tak pernah mengingatku. Kau memang tak pernah menganggapku lebih.
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….
AKU TIDAK MENYUKAIMU LAGI. Tapi, astaga! Kenapa perasaan aneh itu kerap berdiam di hatiku. Kenapa perasaan aneh yang aku tak tau namanya apa itu masih setia menemani malam-malam sunyiku. TUHAN, bantu aku menghilangkannya. Aku bahkan tak sanggup menahan bulir-bulir yang jatuh dari mataku. Apa aku selemah itu, Tuhan? Aku hanya ingin melupakannya.
Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Aku membencimu! Tapi di sisi lain aku amat mencintaimu. Hanya kau yang bisa membuatku menangis dan tertawa disaat yang bersamaan. Kau! Memang hanya kau! Kau yang mengikat hatiku. Kau yang sejak mataku matamu bertemu pandang telah kuletakkan dalam sebuah tempat terindah dalam hatiku. Kau yang telah menyimpan orang lain dihatimu ….
Terkadang aku berharap kau tuliskan satu kata perpisahan yang nyata. Ya, satu saja! Sekalipun sulit bagiku melepas kau pergi. Katakan saja:
“Pergilah. Aku tak akan pernah mencintaimu.”
Maka aku akan mundur dengan hati yang lega. Sungguh ….
*terinspirasi dari lagu Simfoni Hitam-Sherina*
Adakah aku di mimpimu
Teruntuk KAMU yang tak pernah pergi,
Bahkan dalam diamku yang paling sunyi…
Kau tahu, terkadang perasaan ini membuatku sesak. Aku mencintaimu, tapi kamu tidak. Aku menyayangimu, tapi kamu mencintainya. Kau tahu seperti apa rasanya? Seperti saat kau menitipkan hatimu pada seseorang, lalu dia mencabik-cabiknya tanpa ampun. Melukai perasaan yang dengan sangat hati-hati kaujaga hanya untuknya. Dan lucunya, aku merasakan yang seperti itu setiap hari. Setiap kali aku menatapmu. Setiap kali aku mendengar suaramu. Setiap kali aku melihat kau bersamanya.
Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
Kadang terbersit rasa untuk melupakanmu saja. Mengikis rasa yang tumbuh di seluruh celah hatiku. Begitu ingin menghapus gurat-gurat kerinduan yang amat menyesakkan. Tapi, Kau tahu, kan? Apa yang kita inginkan, tidak selalu bisa kita lakukan. Aku ingin memalingkan wajah darimu. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, aku tidak bisa. Bahkan untuk tidak menatapmu sehari saja, rasanya sulit sekali. Menatapmu sudah menjadi candu. Candu yang memburu. Aku mencintaimu. Katakan saja perasaanmu adalah sama. Apa itu permintaan yang terlalu sulit?
T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
Terkadang aku amat membenci perasaan ini. Perasaan yang selalu membisikiku bahwa aku seorang pecundang. Pecundang yang gagal memperjuangkan hatinya sendiri. Detak jantungku pun kerap mengingatkanku, bahwa faktanya, kau memang tak pernah mengingatku. Kau memang tak pernah menganggapku lebih.
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….
AKU TIDAK MENYUKAIMU LAGI. Tapi, astaga! Kenapa perasaan aneh itu kerap berdiam di hatiku. Kenapa perasaan aneh yang aku tak tau namanya apa itu masih setia menemani malam-malam sunyiku. TUHAN, bantu aku menghilangkannya. Aku bahkan tak sanggup menahan bulir-bulir yang jatuh dari mataku. Apa aku selemah itu, Tuhan? Aku hanya ingin melupakannya.
Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu
Aku membencimu! Tapi di sisi lain aku amat mencintaimu. Hanya kau yang bisa membuatku menangis dan tertawa disaat yang bersamaan. Kau! Memang hanya kau! Kau yang mengikat hatiku. Kau yang sejak mataku matamu bertemu pandang telah kuletakkan dalam sebuah tempat terindah dalam hatiku. Kau yang telah menyimpan orang lain dihatimu ….
Terkadang aku berharap kau tuliskan satu kata perpisahan yang nyata. Ya, satu saja! Sekalipun sulit bagiku melepas kau pergi. Katakan saja:
“Pergilah. Aku tak akan pernah mencintaimu.”
Maka aku akan mundur dengan hati yang lega. Sungguh ….
*terinspirasi dari lagu Simfoni Hitam-Sherina*
(Ulya Uhirayya, 29 September 2012)
Dalam Rindu
Dalam rindu aku menunggu
Sekejap hangat memelukku
Dalam resah aku melangkah
Mencari tempat tuntaskan lelah
Dalam sepi aku bernyanyi
Mencari sekeping hati untuk dicintai
(Cem Acem, 28 September 2012)
Separuh Aku
Namamu memang tak ada dalam memori kecil di otakku.
Bahkan aku tak pernah tahu apa arti dari maya.
Dan sepertinya ku'tlah lupa dengan kata.
Apalah arti sebuah harapan?
Mungkin Kau marah dengan pertanyaanku.
Memang Engkau pejuang sejati.
Dua tahun lalu, disaat kurangkaikan syair untukmu.
Kulantuntan suara deru dalam laguku.
Dan Kaupun menyapaku dengan lembut.
Bisikkan itu masih ada.
Sayu di matamu masih menajamkan ingatanku.
Terdengar cerita tentangmu.
Separuh aku tak percaya.
Di manakah Kau tinggalkan asamu?
Di manakah kobaran api semangatmu yang telah kautularkan?
Akankah api itu juga akan padam bersama sirnanya harapan itu?
Apakah mimpi itu telah sirna?
Apakah asa itu telah habis tiada tersisa?
Separuh aku tidak percaya.
(Putra Jatijajar, 28 September 2012)
Cintaku Padamu
Pancaran cahaya cintaku
Berbanding lurus dengan reflaksi cahaya cintamu
Gelombang cinta yang ada di hatiku telah tertaut pada friksi yang ada padamu
Berharap resonan cintaku sama seperti gelombang cintamu
Daya tarik pesonamu telah meluruskan gaya sentripetal yang ada di hatiku
Getaran cintamu telah membuat spektrum rasa di dadaku
Cinta yang ada di hatiku tidak akan korosif untuk selamanya
Energi Mekaniknya tak terbendung oleh friksi
Sementara, energi potensial cintaku tidak dipengaruhi oleh friksi
Bahkan hukum kekekalan energi cintaku tidak dapat menandingi kekekalan cintaku
(Nurdiani Latifah, 28 September 2012)
Puisi Sang Perindu
Kala waktu lambat melaju
Merayap laun mengerem langkahnya
Tak sadarkah ia, akan penghuni alam yang ada
Merayap laun mengerem langkahnya
Tak sadarkah ia, akan penghuni alam yang ada
Yang duduk terpekur di ujung jalan malam
Yang menanti mentari menggantikan gulita
Menggigil dalam dingin
Meronta dalam sepi
Berusaha tangan menggapai cahaya
Agar rindu bukan tak berujung
(Wanda Kania, 27 September 2012)
Yang menanti mentari menggantikan gulita
Menggigil dalam dingin
Meronta dalam sepi
Berusaha tangan menggapai cahaya
Agar rindu bukan tak berujung
(Wanda Kania, 27 September 2012)
Kamu di Mataku
Masih ingatkah engkau hal-hal yang pernah kita lalui bersama? Banyak hal bodoh yang ada di dalamnya. Tapi buatku, sebodoh apapun itu, aku sangat mensyukuri kebersamaan kita. Menikmati setiap detiknya.
Sering aku memandangimu lama-lama saat kamu tersenyum, saat kamu membenarkan letak kerudungmu, saat kamu mengetik SMS, bahkan aku suka caramu tertawa lepas, kemudian aku hanya mengusap dadaku dan menenangkan gemuruh di dalamnya. Ah, kamu memang manis. Kamu pasti sering bertanya kenapa aku sampai tahu kamu sedetil itu, memperhatikanmu sampai hal-hal yang tak penting. Itu cinta. ya, itulah yang namanya cinta.
Oh iya, ada saat di mana yang kita lakukan dulu dan sekarang sangat aku rindukan, saat di mana aku berada selangkah di depanmu, menghadap kiblat, lalu kamu mengaminkan bacaan Al-fatihahku. Tak lama memang, hanya beberapa rakaat. Andai aku mampu, ingin rasanya kuhentikan waktu. Tapi sekarang mengapa kita tak pernah melakukannya lagi? kita lebih sering sendiri-sendiri, aku lebih dulu lalu kamu setelahnya, atau sebaliknya.
Masih ingat juga pertama kita dekat, sering aku menangis karena kedekatan kita sepertinya tak mendapat restu, terlebih sikap-sikapmu yang kulihat tanpa respect. Ada apa dengan kamu? Ada pertarungan hebat dalam diriku, sering aku bertanya, "Kenapa aku masih di sini? kenapa aku masih bertahan dan tak beranjak pergi?" Lalu sisi lain dalam diriku menjawab, "Pikiran memang ingin pergi, namun hati tak mampu beranjak." Sepertinya ini memang cinta, bertahan dalam harapan.
Sebenarnya aku juga tahu aku tak boleh seperti ini, aku tak seharusnya banyak berharap pada seseorang. Seharusnya aku berharap pada-Nya sampai Ia mendatangkan seseorang untukku, dengan skenario-Nya tentunya. Tapi aku juga tak mampu melepaskan semua ini, andai aku bisa melepaskanmu semudah aku mengetikannya. Andai aku mampu berjalan kembali semudah aku berbicara, sulit. Sangat.
Kini waktu terus berjalan. Semoga apa yang aku pikirkan tentang apa yang aku perjuangkan untukmu telah membuahkan hasil, benar adanya. Setidaknya lebih baik. Karena berniat menikahimu adalah jalan yang menurutku jauh lebih baik daripada kita terus menerus ada dalam posisi sekarang ini. Yang aku harapkan adalah ridho-Nya. Semoga Allah memudahkan semuanya.
Tapi masih ada kegelisahan yang terus menggangguku. Tentang sikap-sikapmu. Apakah akan masih sedingin ini kelak? Akankah nantinya juga kamu terus-terusan melihat sisi burukku? sedangkan status-statusmu selalu saja melihat orang dari sisi terbaiknya. Aku salah apa?
Kata orang, kesabaran itu ada batasnya, tapi buatku tidak. Aku memilih untuk terus bersabar dan istiqamah di dalamnya. Andai kamu tau, kamu adalah nama yang kusebut setelah orang tuaku di dalam doa-doaku setelah sholat.
Ah, sudahlah. Harusnya hal-hal seperti ini selalu ada dalam hatiku. Tak perlu aku katakan, karena bagaimana pun juga aku berusaha untuk menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu walaupun bukan karena. Jika ditanya apa yang aku cintai darimu, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tak punya alasan untuk itu. Yang jelas aku mencintaimu.
(Yo Ga, 23 September 2012)
Sering aku memandangimu lama-lama saat kamu tersenyum, saat kamu membenarkan letak kerudungmu, saat kamu mengetik SMS, bahkan aku suka caramu tertawa lepas, kemudian aku hanya mengusap dadaku dan menenangkan gemuruh di dalamnya. Ah, kamu memang manis. Kamu pasti sering bertanya kenapa aku sampai tahu kamu sedetil itu, memperhatikanmu sampai hal-hal yang tak penting. Itu cinta. ya, itulah yang namanya cinta.
Oh iya, ada saat di mana yang kita lakukan dulu dan sekarang sangat aku rindukan, saat di mana aku berada selangkah di depanmu, menghadap kiblat, lalu kamu mengaminkan bacaan Al-fatihahku. Tak lama memang, hanya beberapa rakaat. Andai aku mampu, ingin rasanya kuhentikan waktu. Tapi sekarang mengapa kita tak pernah melakukannya lagi? kita lebih sering sendiri-sendiri, aku lebih dulu lalu kamu setelahnya, atau sebaliknya.
Masih ingat juga pertama kita dekat, sering aku menangis karena kedekatan kita sepertinya tak mendapat restu, terlebih sikap-sikapmu yang kulihat tanpa respect. Ada apa dengan kamu? Ada pertarungan hebat dalam diriku, sering aku bertanya, "Kenapa aku masih di sini? kenapa aku masih bertahan dan tak beranjak pergi?" Lalu sisi lain dalam diriku menjawab, "Pikiran memang ingin pergi, namun hati tak mampu beranjak." Sepertinya ini memang cinta, bertahan dalam harapan.
Sebenarnya aku juga tahu aku tak boleh seperti ini, aku tak seharusnya banyak berharap pada seseorang. Seharusnya aku berharap pada-Nya sampai Ia mendatangkan seseorang untukku, dengan skenario-Nya tentunya. Tapi aku juga tak mampu melepaskan semua ini, andai aku bisa melepaskanmu semudah aku mengetikannya. Andai aku mampu berjalan kembali semudah aku berbicara, sulit. Sangat.
Kini waktu terus berjalan. Semoga apa yang aku pikirkan tentang apa yang aku perjuangkan untukmu telah membuahkan hasil, benar adanya. Setidaknya lebih baik. Karena berniat menikahimu adalah jalan yang menurutku jauh lebih baik daripada kita terus menerus ada dalam posisi sekarang ini. Yang aku harapkan adalah ridho-Nya. Semoga Allah memudahkan semuanya.
Tapi masih ada kegelisahan yang terus menggangguku. Tentang sikap-sikapmu. Apakah akan masih sedingin ini kelak? Akankah nantinya juga kamu terus-terusan melihat sisi burukku? sedangkan status-statusmu selalu saja melihat orang dari sisi terbaiknya. Aku salah apa?
Kata orang, kesabaran itu ada batasnya, tapi buatku tidak. Aku memilih untuk terus bersabar dan istiqamah di dalamnya. Andai kamu tau, kamu adalah nama yang kusebut setelah orang tuaku di dalam doa-doaku setelah sholat.
Ah, sudahlah. Harusnya hal-hal seperti ini selalu ada dalam hatiku. Tak perlu aku katakan, karena bagaimana pun juga aku berusaha untuk menerimamu apa adanya. Aku mencintaimu walaupun bukan karena. Jika ditanya apa yang aku cintai darimu, aku tak tahu harus menjawab apa. Aku tak punya alasan untuk itu. Yang jelas aku mencintaimu.
(Yo Ga, 23 September 2012)
Rabu, 19 September 2012
Selasa, 18 September 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
