Pages - Menu

Minggu, 14 Oktober 2012

Cerpen : Patahan Bintang



Oleh: Noey Ismii

“Kau pernah melihat bintang?”

“Kau bercanda? Tentu saja sudah! Setiap malam aku melihatnya! Atau kau lupa bahwa aku sangat menyukai bintang?”

“Tentu saja aku tidak pernah lupa. Tapi kau belum pernah melihat bintang di depan matamu, kan?”

“Aku melihat bintang di langit malam.”

“Kau harus melihat patahan bintang!”

“…”

“Aku akan mencarikannya untukmu.”

“Cari? Kemana?”

“Kau tidak akan percaya jika aku bilang sekarang. Tapi kau akan terkejut saat kubawakan satu untukmu.”

“Memangnya kau bisa terbang sampai kau mau membawakan satu bintang untukku?”

“Aku tidak akan memberimu bintang. Tapi aku akan memberi patahan bintang!”

“Apa bedanya?”

“Tentu saja beda.”

“Kau mau membodohiku?”

“…”

“Bilang saja jika kau sedang membodohiku!”

“Aku …”

“Benar, kan? Kau tidak bisa mengelak!”

“Aku harus pergi.”

“…”

“Aku harus meninggalkanmu.”

“…”

“Aku akan pergi, ke bintang.”

“Jangan bercanda! Itu sama sekali tidak lucu!”

“Aku tidak bercanda. Aku akan pergi. Nanti, jika aku kembali, aku akan membawakan patahan bintang untukmu.”

“Kau …”

“Kau mau menungguku?”

“…”

“Gheya …”

“Jangan pergi!”

“Tapi aku harus pergi”

“Aku tidak mengizinkanmu pergi!”

“Ini harus kulakukan, Gheya. Ini untukmu juga.”

“Ini bukan untukku! Ini untuk dirimu sendiri!”

“Tolong hilangkan dulu egoismu itu.”

“Aku hanya ingin agar kau tidak pergi. Kau yang egois!”

“Aku melakukannya untuk kita.”

“Kenapa kau harus pergi? Untuk apa? Apa aku tidak berarti untukmu? Apa yang membuatmu harus pergi?”

“Aku tak pernah meminta apapun. Karena semua yang aku inginkan ada di depanku sekarang. Semua yang aku harapkan ada pada dirimu. Tapi aku harus tetap pergi.”

“Untuk apa?!”

“Untuk kita.”

“Kita?! Kau! Ini hanya untukmu! Lalu aku? Bagaimana denganku?”

“Kau akan menungguku.”

“Aku tidak akan menunggu!”

“Aku tahu kau akan menungguku!”

“…”

“Benar, kan?”

“…”

“Gheya …”

“Kapan kau kembali?”

“Tidak lama. Tidak akan lama …”

-o0o-

Malam kembali datang. Gelap kembali menyerang. Angin dingin pun kembali bertiup. Binatang malam seperti tak mau ketinggalan, setia meramaikan malam. Bulan purnama terbentuk bulat sempurna di atas mega. Awan tipis membingkai cahaya pantulannya. Lalu bintang, dengan setia menemani rembulan. Juga seorang gadis yang juga setia menemani bintang.

Mata biru terang itu masih menatap satu per satu bintang yang berkedip di langit malam itu. Kemudian pandangannya beralih pada kanvas putih di hadapannya. Belum ada yang terlukis disana. Tapi sebentar lagi, kanvas itu akan segera terisi. Seperti biasa. Lukisan yang setiap malam dibuatnya. Lukisan bintang.

Tangannya mulai menyentuh kuas putih di hadapannya.  Dengan satu sapuan, warna hitam sudah membelah kedua sisi kanvasnya. Tapi detik berikutnya, dia kembali menyimpan kuasnya. Hanya ada sapuan warna hitam yang terbentuk di kanvasnya itu. Membelah putih menjadi dua bagian.

Gadis itu menunduk. Membiarkan rambut pirangnya terurai begitu saja. Kemudian kembali mengangkat kepalanya. Tangannya menggapai teropong kecil miliknya. Teropong yang sudah dimilikinya sejak dia masih kecil. Pemberian dia, pemuda dengan mata hitam itu.

Bulir bening bergulir di pipi mulusnya.

“Dimana bintang tempatmu?” tanyanya lagi. Dia tahu persis untuk siapa pertanyaan ini.

Dia kembali menyimpan teropongnya. Menatap bintang sedekat itu membuatnya sesak. Tapi jika tidak melihat bintang, rindunya lah yang akan menyesak. Sambil terisak, dia mengeluarkan benda berwarna biru terang itu dari dalam kantung kainnya. Menggengganya dalam. Ada hangat yang menjalar sampai ke hatinya setiap kali menyentuh benda itu.

Pertama kali dia menemukannya, benda itu ada di meja di samping tempat tidurnya. Benda itu menyala seperti api. Tapi warnanya biru. Indah. Berbentuk seperti pahatan hati. Dan dia tahu sekali. Dia sangat tahu benda apa yang ada di genggamannya itu. Ya, itu adalah patahan bintang. Patahan bintang yang dijanjikan kekasihnya. Ardri.

Janjinya ditepati. Patahan bintang itu memang untuk Gheya. Tapi sampai saat ini, Ardri belum juga kembali. Hanya patahan bintang itu yang datang. Tidak dengan seseorang yang menjanjikannya. Tapi Gheya sudah berjanji. Dia akan menunggu. Akan selalu menunggu. Bahkan sampai tak terbatas waktu.

Meskipun dia tak tahu alasan Ardri harus pergi itu apa dan kenapa. Tapi dia tak peduli lagi sekarang. Yang dipedulikannya sekarang adalah datangnya Ardri.
Dan dia akan menunggunya. Setia dengan teropong dan lukisannya. Bersama dengan malam dan dinginnya. Juga dengan bintang. Dan patahan bintangnya.

-o0o-

Kau tak tahu siapa kau sebenarnya. Tapi aku tahu. Karena aku yang menemukanmu, saat itu. Saat kau dan bintangmu jatuh. Aku tak tahu pastinya kau itu apa. Tapi dari sayap di punggungmu, aku bisa menebaknya. Kau mungkin bidadari, atau peri. Tapi aku tak peduli. Karena saat melihatmu, aku jatuh cinta. Sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Saat Dewa Langit turun untuk melihatmu, aku juga melihatnya. Dia bilang waktumu sudah habis. Jadi kau akan hilang. Menjadi debu, jika aku tidak salah ingat. Tapi entah karena bodohnya aku atau karena terpesona melihatmu, aku menerima persyaratan agar kau tidak berubah menjadi debu. Aku akan menggantikan dirimu.

Tentu saja, aku juga tidak bodoh. Sebelum aku menggantikanmu, aku meminta untuk bisa bersama denganmu. Tidak lama memang. Tapi aku masih bersyukur karena Dewa Langit mau mengabulkan permintaanku. Jadi, di sinilah aku sekarang. Bersamamu. Meskipun kutahu ini tak akan lama. Tapi aku senang telah melihatmu seperti sekarang.

Saat itu umurku tujuh belas tahun. Itu pertama kalinya aku jatuh cinta. Kau tahu, sayapmu sangat indah. Aku tak tega melihatmu hancur begitu saja. Dewa Langit membritahuku bahwa kau akan berada dalam tubuh seorang gadis yang seumuran denganku. Kemudia aku bertemu denganmu. Entah bagaimana caranya, tapi aku mengenalimu.

Tapi kau tidak mengenaliku, tentu saja. Ternyata kau lebih menyebalkan dari penampilanmu saat itu. Tapi tetap saja, kau membuatku jatuh cinta kedua kalinya padamu. Aku jatuh cinta lagi, pada orang yang sama.

Em, baiklah, sepertinya aku terlalu banyak bercerita. Sebenarnya aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Aku hanya ingin kau bahagia meskipun kutahu setelah ini kau akan terus menunggu. Sedangkan aku, tak tahu kapan aku harus pulang. Atau mungkin aku tak akan pulang.

Tapi, ini akan menjadi temanmu. Ini adalah bintangmu. Em, lebih tepatnya, patahan bintang yang kutemukan saat aku menemukanmu. Ini patahan dari bintangyang kau jaga. Lalu sekarang, aku yang akan menjaga bintangmu itu. Aku akan menjaganya seperti aku menjagamu. Aku mencintainya, tapi tak akan lebih besar dari cintaku padamu.

Jadi, ya, selamat tinggal. Aku berharap agar kau selalu bahagia. Aku juga pasti akan bahagia jika melhatmu bahagia. Dan aku akan selalu melihatmu. Seperti kau yang selalu melihat bintang.

Kau akan mengenali bintangmu sendiri. Bintang tempatku berdiri.

-selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar