Semasa kecil, saat usiaku belum genap 6 tahun Oom dan Tante bertanya padaku, "Wan, kalau sudah besar kau mau jadi apa?" Saat itu aku belum ngerti apa cita cita, jadi sebagai jawaban atas pertanyaan itu aku hanya tersenyum dan melirik ke Mama.
Ketika usiaku genap 6 tahun, Mama mengajakku ke sebuah pernikahan, pernikahan sahabat Mama di kota Jakarta. Aku merasa senang melihat gedung-gedung menjulang tinggi, dan saat itu pun aku berkata, "Ma, kalo udah gede aku mau jadi orang yang suka bikin gedung-gedung tinggi itu." Itulah pertama kalinya aku mengenal cita cita, walau tak tahu apa sebutannya untuk pekerjaan itu, yang penting bikin gedung-gedung tinggi ... :P
"Yang benar saja, Nak, kau tak mungkin menjadi arsitek. Kamu, kan, ndak suka gambar." Sejak saat itu, kutanamkan dalam hati bahwa aku tak layak bercita cita menjadi Arsitek.
Tak terasa aku sudah masuk sekolah dasar. Aku senang belajar, hingga pada suatu hari aku bolos sekolah diajak Eyang Uti ke bandara Husein untuk menjemput bude dari Jogja. Itulah pertama kalinya aku melihat seorang pilot dan kagum kepadanya, jadi ketika Ibu Ika, guru bahasa Indonesia berkata, "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit!" Aku dengan bangga berkata, "Aku ingin menjadi Pilot." Guruku menjawab, "Kau tak bisa jadi pilot kalau rankingmu jelek." Ya aku memang bukan anak pintar di kelas. Lagi-lagi aku membuang cita-cita untuk menjadi pilot.
Usiaku makin bertambah dan tak terasa sudah duduk di sekolah menengah pertama. Aku senang olahraga, maka ketika guruku bertanya, "Apa yang ingin kauraih di masa depan?" Aku menjawab, "Ingin menjadi pemain Basket Nasional."
Tiba tiba seisi kelas bersorak, "Huuu ...! Badan pendek gitu mau jadi pemain basket? Mana bisa?!" Tanpa pikir panjang lagi, saat itu aku melupakan cita-citaku untuk menjadi seorang atlet basket.
Masa SMP pun berakhir, berganti menjadi berseragam abu-abu. G
uru BP memangggilku keruangannya.Masa SMP pun berakhir, berganti menjadi berseragam abu-abu. G
"Kau hendak meneruskan ke mana setelah lulus nanti?" tanya beliau saat itu. Aku berpikir sejenak lalu menjawab, "Mau jadi arsitek, gambarku jelek . Mau jadi pilot, ndak terlalu pintar. Mau jadi atlet basket, kependekan. Jadi setelah lulus nanti aku memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja." Aku yakin kali ini tak bakal ada yang bisa menghalangiku.
Benar saja. Sekalipun belum resmi menjadi seorang istri plus ibu rumah tangga tapi salah satu cita-citaku bisa tercapai yaitu jadi seorang istri pilot yang pintar gambar dan jago main basket ... ( Insya Allah ..^_^ )
(Esti Purwanti, 30 September 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar