Pages - Menu

Minggu, 30 September 2012

Surat untuk Ibu Penjual Gorengan

Kepada seorang ibu penjual gorengan yang lebih tangguh dari karang di dasar lautan ....

Bu, saat pertama kali aku berjumpa denganmu, ada rasa iba yang menyelusup di dadaku. Pada usia yang telah menuai senja, tidak juga lelah mampu mengusik kegigihanmu. Diantara lima ratus demi lima ratus rupiah, kaugantungkan harapan beraroma kegetiran. Diantara tiap tetes peluhmu yang kerap kali menjadi begitu usang dihempas teriknya siang, tiga nyawa dipertaruhkan.

Bu, kulihat tubuhmu begitu kurus dilindas nyinyirnya ketegaran. Mungkin selama ini kau telah berjuang, mendobrak segala ketidakberdayaan. Mengabdi lebih dari 24 jam yang dijatahkan Tuhan. Aku percaya, kau lebih dari sekedar kata “tangguh”.

Bu, pada perjumpaan kita yang kedua, ketiga, dan perjumpaan-perjumpaan selanjutnya, aku mulai mengenal pahitnya hidup yang kau tenggak setiap hari, setiap detik, tanpa jeda. Semuanya membuatku malu, pada keluh kesah yang sempat mendesah, sedang kau, mungkin bahkan kau telah lupa pada kedua kata itu.

Kau hebat, Bu. Hebat sekali. Tak sekali pun kudengar kau menyesali jalan kehidupan yang Tuhan gariskan untukmu, meski aku sadar itu semua pasti sangat sulit untuk kaujalani. Terkadang aku ingin menangis setiap kali kisah itu kausisipkan pada tiap potong gorengan yang kaujual; tentang beratnya menjadi seorang ibu, seorang ayah, sekaligus seorang istri yang baik bagi keluargamu.

Kau tak pernah menggugat Tuhan yang telah menjodohkanmu dengan seorang lelaki lumpuh, yang tiap hari kaurawat penuh kesabaran. Kau tak pernah meminta agar Tuhan meniadakan tugas mencari nafkah dari buku tugas kehidupanmu, kau hanya selalu meminta agar suamimu disembuhkan. Kau juga tak pernah meminta agar bebanmu diringankan, tapi kau meminta agar diberi kekuatan.

Ah bu, kau begitu mahir menikmati shubuh dengan peluh. Kau begitu lihai menghabiskan senja dalam asa yang menguap tanpa kata. Tak satu pun mampu membuatmu terhempas dan jatuh, tidak hujan, tidak juga badai.

Bu, aku ini hanya perempuan dengan tangan hampa. Maaf, jika aku hanya mampu memuji dan belajar darimu, tanpa sesuatu pun kupersembahkan untukmu. Tapi Bu, aku punya Tuhan, yang bisa memberimu segala. Bu, semoga gerimis dalam hidupmu segera usai, mencipta 7 warna pelangi yang rebah di hatimu...





(Mutaminah Althafurrahmah, 22 September 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar